Kamis, 23 Juli 2026

Pentas Pertama, Bahagia yang Belum Lengkap

Karena hadrah ini, saya jadi semakin memahami sebuah kalimat, "Sesuatu yang memang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalannya menghampirimu."

Semuanya berawal dari sebuah pertunjukan hadrah di acara pernikahan sekitar empat tahun lalu. Saat itu, Jadid kecil begitu terpesona melihat orang-orang memainkan tipa. Sejak hari itu, ia jatuh cinta pada alat tersebut.

Sebagai orang tua, kami hanya menganggapnya sebagai bagian dari permainan dan latihan motorik kasar. 

Siapa sangka, ketertarikan sederhana itu ternyata sedang Allah siapkan menjadi sebuah jalan.

Meski kami tinggal di Wagom, Jadid mendapat kesempatan bergabung bersama grup hadrah Remaja Masjid Al-Kautsar Seberang berkat bimbingan Tata, neneknya. Awalnya semua terasa biasa saja. Ada lomba Islami untuk anak-anak, dan Tata menjadi pembina peserta dari kompleks.

Waktu itu saya hanya iseng berkata, "Abang Jadid ikut saja, kan Abang suka hadrah."

Ternyata Tata mengiyakan. Beliau langsung meminta biodata Jadid, dan dari situlah perjalanan menuju pentas pertama dimulai.

Selama hampir tiga pekan, Jadid menjalaninya dengan penuh semangat. Pagi ia sekolah, siang mengikuti les, sore ke Sebrang untuk latihan hadrah, lalu malam kembali pulang ke Wagom. Perjalanan pulang-pergi sekitar tiga puluh menit tidak pernah menjadi alasan baginya untuk mengeluh. Melihat semangatnya, saya justru belajar bahwa anak-anak sering kali lebih kuat mengejar hal yang mereka cintai daripada yang kita bayangkan.

Hari yang ditunggu pun tiba. Jadid akhirnya tampil di panggung untuk pertama kalinya.

Namun, kebahagiaan itu belum sepenuhnya lengkap.

Setelah selesai tampil dan di tanya perasaannya, Jadid berkata pelan, "Cukup... karena Baba tidak hadir."

Saat itu Baba sedang berada di Manokwari. Meski tidak bisa menyaksikan langsung, Baba memastikan semua kebutuhan Jadid terpenuhi agar ia bisa mengikuti lomba dengan tenang.

Sesaat setelah acara selesai, Baba menelepon Jadid. Suaranya bergetar, lalu ia menangis.

Di momen itu saya kembali diingatkan bahwa bagi seorang anak, kehadiran orang tua sering kali lebih berharga daripada apa pun. Dukungan dalam bentuk usaha dan pengorbanan sangat berarti, tetapi pelukan, tatapan, dan kehadiran di momen-momen penting akan selalu memiliki tempat yang istimewa di hati mereka.

Semoga suatu hari nanti, ketika Jadid membaca tulisan ini, ia tahu bahwa pentas pertamanya bukan hanya tentang hadrah. Ini adalah kisah tentang cinta, ikhtiar, takdir.

Semoga suatu saat Baba bisa menyaksikan langsung penampilan Jadid berikutnya. Saya yakin, bagi Jadid, itu akan menjadi kebahagiaan yang lebih utuh. 





Abang Jadid dan Hadrah

Seingatku, semuanya bermula di sebuah acara pernikahan di jalan cengkeh tiga.

Di depan rumah mempelai pria, sekelompok bapak-bapak duduk melingkar memainkan hadrah. Tabuhan rebana berpadu dengan suara shalawat, mengalun begitu kompak. 

Hari itu bukan hanya saya yang terpikat dengan irama hadrah. Abang Jadid juga, ia terpesona. Hampir tak berkedip, tatapannya begitu lekat pada setiap tangan yang menabuh rebana, seolah sedang menyimpan semua gerakan itu di dalam ingatannya.Takjub. 

Saat itu usianya tiga tahun. Dan sejak hari itu, rebana menjadi teman bermainnya. ia suka menabuh rebana dengan gembira bahkan seperti merusak alat. Sebagai orang tua, otakku sempat terlintas, " ish, bikin rusak barang saja"hiihh

Alat yang dulu menjadi teman bermain berubah jadi jalan bagi Abang Jadid, ikut memeriahkan syiar Islam di Fakfak. 

Tadi malam saat pentas, yang kulihat bukan sekadar seorang anak yang sedang memainkan hadrah. Yang kulihat adalah sebuah perjalanan.

Perjalanan seorang anak kecil yang dulu berdiri terpaku, memandang penuh kekaguman pada tabuhan rebana di sebuah acara pernikahan, dengan mata berbinar. Seolah menyimpan diam-diam sebuah impian.

Tadi malam anak itu bukan lagi penonton. Ia berdiri di barisan yang dulu hanya ia kagumi, ikut menabuh rebana dengan semangat. Terharuku! 

Semoga setiap orang yang menjadi sebab hadirnya kesempatan ini selalu berada dalam keberkahan Allah. Baarakallahu fiikum. #lombaislami #memperingati 666 tahun Islam Masuk di Papua









Selasa, 21 Juli 2026

Jadid dan Hari Minggu

 




























Jadid dan Hari Minggu

Jadidku kini berusia 7 tahun. Berdasarkan STIFIn, ia bertipe Intuiting Ekstrovert. Sebagai anak ekstrovert, semangatnya tumbuh dan menguat dari lingkungan sekitarnya. Ia sangat ekspresif, ceria, dan fotogenik. Nina selalu sukq melihat senyumnya yang lepas dan ceria. 

Belakangan ini, ia sedang senang menghitung hari. Dari semua hari dalam sepekan, yang paling ia tunggu adalah hari Minggu. Baginya, hari Minggu adalah hari piknik. Seolah sudah menjadi tradisi kecil keluarga kami.
Yang lucu, bagi Abang Jadid, piknik tidak hanya soal pergi ke suatu tempat. Piknik harus ramai. Harus ada Tata, Tete, Om Ugi, atau teman-temannya. Semakin banyak yang ikut, semakin besar semangatnya.

Suatu hari, Baba dan Nina lupa mengonfirmasi apakah jadi piknik atau tidak. Saat itu Abang Jadid sedang menginap di rumah Tata. Biasanya kami berangkat pagi agar bisa pulang sebelum siang dan beristirahat.

Minggu pagi, Abang Jadid telepon dari rumah Tata. Baba yang menjawab telfon langsung terkejut.
"Hah... jadi pergi? Abang Jadid tidak bilang, sih..."
Ternyata, di benak Abang Jadid, hari Minggu berarti pasti piknik. Ketika ia merasa kami tidak menjemputnya, ia pun mulai ngambek.
Dari situ kami belajar bahwa rutinitas yang sederhana ternyata menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya.

Minggu berikutnya, Baba dan Nina sudah memastikan rencana piknik sejak awal. Abang Jadid langsung mengiyakan dengan penuh semangat. Namun, kali ini Tata, Tete, Om Ugi, dan teman-temannya tidak ada yang bisa ikut.
Seketika semangatnya menurun. wajahnya sedikit kecewa.

Akhirnya yang berangkat hanya Baba, Nina, Abang Jadid, dan ade Mekah.
Tapi justru piknik kali ini menjadi piknik yang berbeda. Lebih tenang, lebih hangat, dan lebih banyak ruang untuk bercerita. 
Kami menyadari bahwa bagi anak bertipe Intuiting Ekstrovert, kebersamaan dengan banyak orang memang mengisi energinya. 
Namun perlahan, kami juga ingin mengajarkannya bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari ramainya orang yang ikut, melainkan dari hangatnya kebersamaan dengan keluarga.

Semoga kelak, Abang Jadid tumbuh menjadi pribadi yang mampu menikmati kebersamaan dalam keramaian, sekaligus menemukan ketenangan dalam lingkaran kecil keluarganya.

Ya Allah, bimbinglah kami agar mampu memahami bahasa cinta setiap anak yang Engkau titipkan. Aamiin.























Pentas Pertama, Bahagia yang Belum Lengkap

Karena hadrah ini, saya jadi semakin memahami sebuah kalimat, "Sesuatu yang memang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalannya menghamp...