Selasa, 24 Februari 2026

22 Februari: Bukan Kebetulan

 Hari itu saya mengikuti kelas pembinaan agama dan hatiku seperti disentuh kembali oleh kenangan bersama Kak Lia, Allahuyarhamha.

Di depanku, seorang kakak perempuan berjilbab coklat menyampaikan materi.

Materi yang ia bawakan adalah materi yang dulu pertama kali Kak Lia perkenalkan kepadaku.

Cara beliau berbicara.

Cara mengenakan jilbab.

Cara berpakaian.

Mirip sekali dengan Kak Lia.


Saya sempat kehilangan fokus beberapa detik.

Mataku tak bisa berpaling darinya.

Di kepalaku hanya satu kalimat berulang pelan:

“Kak… apakah hari ini engkau mengunjungiku?”

Di hari engkau pergi tahun lalu, Allah  mempertemukanku dengan sosok yang begitu mirip denganmu.

Dan mungkin benar…

Allah memiripkan sebagian manusia,

agar diantara perpisahan, kita masih diberi kesempatan pertemuan kecil untuk dikuatkan.

Terima kasih, Kak, sudah “mengunjungiku”.

Memang bukan dengan orang yang sama,

tapi dengan cahaya yang sama.

Ya Allah, ini bukan cerita perpisahan 

Ini adalah cerita kesinambungan.

Allahummaghfir laha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha.

Akhir kelas, saya memberanikan diri meminta foto bersama kakak yang mirip kak Lia..


✍️ Rima Rumata





Senin, 29 Desember 2025

Dengar Pidato Ketua DPW di Musda










Kemarin di Musda PKS, saya mendengarkan pidato Ketua DPW Bapak Imam Muslih. Tiba-tiba ingatan  terasa dejavu. 

Beliau berbicara dengan tenang, tetapi isinya berat. Tentang masa depan pangan dalam hal ini beras dan tentang petani yang kian berkurang.

Beliau mengatakan bahwa ketahanan pangan di masa depan menuntut keberanian untuk berpikir ulang tentang diversifikasi, tentang menghidupkan kembali pangan lokal sebagai makanan pengganti yang layak, sehat, dan bermartabat.

Saya langsung teringat materi lama di bangku HI: krisis pangan global. Bagaimana pangan bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen kekuasaan. Ketika produksi terganggu dan distribusi timpang, jika ini dibiarkan, maka krisis pangan bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Di sinilah saya menangkap inti pidato Ketua DPW. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok dan distribusi, tetapi soal keberpihakan politik kepada petani agar mau dan mampu bertahan, kepada keluarga agar tidak rapuh oleh harga, dan kepada ibu-ibu yang setiap hari menjaga dapur di tengah keterbatasan.

Saya tersenyum pelan. Apa yang dulu dipelajari sebagai teori, hari ini disampaikan sebagai arah perjuangan.

Materi yang dulu terasa jauh dan besar, hari ini saya memahaminya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ketahanan pangan hadir di rumah sendiri: di piring kecil anak, di pilihan makanan yang sederhana tapi cukup, dan di doa agar keluarga tidak kekurangan. Dan untuk itulah negara harus hadir melalui kebutuhan paling dasar rakyatnya, yaitu makanan.


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita



Jumat, 14 November 2025

TABUNGAN MASA KECIL

Dulu, pengasuhan kita keras atau yang sering disebut parenting ala VOC, Kita pikir itulah cara paling efektif membuat anak patuh. Kita merasa semuanya akan baik-baik saja.Toh kita tumbuh, sekolah, bahkan mungkin sukses.

Namun ternyata, “baik-baik saja” itu tidak selalu berarti kita membawa tabungan emosi yang aman. Ada bagian dalam diri yang menyimpan takut, marah, atau rasa tidak cukup dan semuanya muncul saat kita menjadi orang tua. Tidak hanya dalam pengasuhan, tetapi juga dalam hubungan rumah tangga.

Bentuknya bisa halus seperti menurut kita anak susah diatur, bisa juga menyakitkan seperti perselingkuhan, pergaulan bebas, kontrol berlebihan, sikap dingin, kebutuhan selalu menang, KDRT, atau silent treatment.

Karena itu, meski kita sudah belajar parenting, baca buku, ikut kelas, bahkan hafal teori, saat berada di bawah tekanan atau kelelahan yang keluar tetap refleks lama: marah, membentak, menuntut anak untuk sempurna.

Bukan karena kita tidak cinta, tapi karena tabungan masa kecil kita dulu belum terisi dengan rasa aman. Memori masa kecil memutar ulang pola bertahan hidup yang dulu kita pakai dan tanpa sadar, pola itu diwariskan lagi pada anak

Maka kalau hari ini pernikahan atau mendidik anak bikin kita kepayahan. Jangan-jangan, tabungan masa kecil kitalah yang sedang meminta diperbaiki, ingin di asuh kembali.

Sebab ketika kita mengasuh diri, kita sedang menata ulang tabungan masa kecil di dalam diri kita memperbaiki bagian yang retak, mengisi ruang yang dulu kosong. Dan dari sanalah anak-anak kita mendapatkan tabungan masa kecil yang hangat, diterima, dan penuh rasa aman sehingga tidak mengulang pola yang sama, ketika mereka jadi orangtua juga.


Laa haulaa walaa quwwata illa billah.


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita




Wisuda

Baarakallahufiikum Adik Adik.. insyaAllah dapat Ilmu yang bermanfaat, rezeki yang banyak dan berkah dan amalan yang diterima.. Aamin..




Kamis, 06 November 2025

Belajar Parenting dan Ego yang Halus.

Saya teringat kelas ParenTHINK mbak Maya yang menampar lembut dengan satu pertanyaan: 

“Belajar parenting supaya apa?”

Apakah sungguh untuk memahami anak atau supaya orang lain melihat kita sebagai orangtua yang berhasil? 

Benar bahwa, orangtua tua mana yang ingin anaknya menderita. Namun, sering tanpa sadar, niat baik itu berubah jadi kendali. Anak diarahkan ke sekolah ini, jurusan itu, pekerjaan yang “pasti”.

Yang akhirnya …Ia belajar, tapi hatinya tidak hidup. Ia bekerja, tapi hatinya tidak disana. 

Perlahan, kita mulai melihat tanda-tanda kelelahan jiwa di sekitar kita. Anak-anak yang sekolah tinggi tapi hatinya kosong. Anak-anak pintar tapi kehilangan arah sehingga mudah membuli atau bekerja bukan karena panggilan hidup, melainkan demi gengsi dan pengakuan.

Orangtua begitu semangat mendorong anak untuk berhasil versi dunia, tapi sering lupa memberi ruang agar anak merasa dimengerti, agar ia tidak kehilangan arah jiwanya sendiri. 

Saya sedang menyadarkan diri sendiri bahwa sesungguhnya belajar parenting bukan untuk mengontrol anak, tapi untuk menjinakkan ego sendiri. Mendampingi anak tumbuh sesuai fitrahnya karena setiap jiwa punya alasan mengapa ia diciptakan Allah. Tidak ada yang kebetulan.


Laa Haula Wallaquwwata Illah Billah...


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita








Hari Ahad: Hari Istirahat atau Hari Paling Sibuk?

Lucu ya…

Hari yang katanya untuk istirahat, justru sering jadi hari paling sibuk di rumah. Bagi ayah setelah enam hari penuh kerja. Ahad adalah waktu untuk diam menenangkan kepala yang penat. Bagi Ibu, setelah enam hari mengurus aktifitas, ahad justru jadi waktu untuk mengisi diri. Ikut kajian, belajar, menata hati, me timelah begitu... Hihi. 

Dan bagi anak-anak, ahad adalah satu-satunya hari

dimana mereka bisa merasa: “Ayah-Ibu milikku seutuhnya". Main bersama, jalan-jalan bersama tanpa buru-buru. 

Tapi begitulah hidup keluarga, bukan soal siapa yang paling lelah, melainkan bagaimana hati-hati ini saling memahami. Mungkin bukan jadwal yang perlu diatur, melainkan ritme cinta yang perlu disepakati. Dan bagiku, memang benar tidak ada hari istirahat di dunia ini, karena istirahat sejati hanya di surga, bersama keluarga. 🤍

“Wahai manusia, sungguh engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (Al-Inshiqaq: 6)


Laa Haula Wallaquwwata Illah Billah...


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita






Allah yang Mendidik.

 Allah yang Mendidik.

Memang, guru itu seperti orangtua kedua sosok yang ucapannya bisa jadi doa, nasihatnya bisa menuntun hidup, tapi juga kata-katanya bisa meninggalkan luka batin yang sulit sembuh.

Banyak anak yang tumbuh besar dengan dua warisan dari gurunya: doa dan luka.

Doa dari guru yang tulus, bisa membuka jalan hidup seseorang.Tapi luka dari guru yang tak sadar, bisa membuat anak kehilangan kepercayaan diri bertahun-tahun.

Mungkin karena itu, guru disebut “keramat.”Keramat bukan karena harus ditakuti, tapi karena kata-katanya berdaya. Dan daya itu bisa menyembuhkan atau menyakiti.


Kata ustadz "

“Tidak ada yang benar-benar bisa mendidik anak-anak kita kecuali Allah.”

La haula wala quwwata illa billah — tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya.


Hanya Allah yang Mendidik.


POV Helikopter (Pandangan dari atas)

Tidak ada yang benar-benar bisa mendidik anak, kecuali Allah. Semua sakit, senang, kecewa, atau bahagia adalah bagian dari kurikulum Ilahi yang dirancang agar anak belajar langsung dari kehidupan.Guru, orangtua, bahkan lingkungan  hanyalah perantara dari kasih-Nya.

POV Anak:

Kami butuh di terima dulu seapa-adanya bukan dibandingkan-bandingkan.

POV Guru:

Kami belajar bahwa kata-kata kami bisa jadi doa, tapi juga bisa jadi luka. Maka kami pun sedang belajar, sama seperti murid kami. Belajar menjadi bijak, pelan-pelan, bersama waktu.

POV Orangtua:

Kami ingin anak kami tumbuh sempurna, tapi sering lupa bahwa yang menciptakan kesempurnaan hanyalah Allah. Kami bukan pemahat takdir, hanya penjaga amanah.


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita




22 Februari: Bukan Kebetulan

 Hari itu saya mengikuti kelas pembinaan agama dan hatiku seperti disentuh kembali oleh kenangan bersama Kak Lia, Allahuyarhamha. Di depanku...