Selasa, 14 April 2026

Lapisan realitas yang Allah izinkan kita singgahi.

Beberapa tempat yang sekilas, punya “vibes” yang sama tapi rasa yang ditinggalkan berbeda.

Mungkin ini bukan hanya tentang tempat
Tapi tentang fase manusia yang Allah izinkan untuk dilewati, satu per satu.

Ada fase seperti Fakfak—
hening, dalam, tempat kita belajar mengenal diri tanpa banyak sorotan.

Ada fase seperti Bogor—
bergerak, bertumbuh, meski belum sepenuhnya tahu arah.

Dan ada fase seperti Jogja—
mulai berdamai, merawat cerita, dan menemukan makna.

Yah... yang disinggahi ini tempat atau sebenarnya proses menjadi diri sendiri?

✍️ Rima Rumata,






















Selasa, 24 Februari 2026

22 Februari: Bukan Kebetulan

 Hari itu saya mengikuti kelas pembinaan agama dan hatiku seperti disentuh kembali oleh kenangan bersama Kak Lia, Allahuyarhamha.

Di depanku, seorang kakak perempuan berjilbab coklat menyampaikan materi.

Materi yang ia bawakan adalah materi yang dulu pertama kali Kak Lia perkenalkan kepadaku.

Cara beliau berbicara.

Cara mengenakan jilbab.

Cara berpakaian.

Mirip sekali dengan Kak Lia.


Saya sempat kehilangan fokus beberapa detik.

Mataku tak bisa berpaling darinya.

Di kepalaku hanya satu kalimat berulang pelan:

“Kak… apakah hari ini engkau mengunjungiku?”

Di hari engkau pergi tahun lalu, Allah  mempertemukanku dengan sosok yang begitu mirip denganmu.

Dan mungkin benar…

Allah memiripkan sebagian manusia,

agar diantara perpisahan, kita masih diberi kesempatan pertemuan kecil untuk dikuatkan.

Terima kasih, Kak, sudah “mengunjungiku”.

Memang bukan dengan orang yang sama,

tapi dengan cahaya yang sama.

Ya Allah, ini bukan cerita perpisahan 

Ini adalah cerita kesinambungan.

Allahummaghfir laha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha.

Akhir kelas, saya memberanikan diri meminta foto bersama kakak yang mirip kak Lia..


✍️ Rima Rumata





Senin, 29 Desember 2025

Dengar Pidato Ketua DPW di Musda










Kemarin di Musda PKS, saya mendengarkan pidato Ketua DPW Bapak Imam Muslih. Tiba-tiba ingatan  terasa dejavu. 

Beliau berbicara dengan tenang, tetapi isinya berat. Tentang masa depan pangan dalam hal ini beras dan tentang petani yang kian berkurang.

Beliau mengatakan bahwa ketahanan pangan di masa depan menuntut keberanian untuk berpikir ulang tentang diversifikasi, tentang menghidupkan kembali pangan lokal sebagai makanan pengganti yang layak, sehat, dan bermartabat.

Saya langsung teringat materi lama di bangku HI: krisis pangan global. Bagaimana pangan bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen kekuasaan. Ketika produksi terganggu dan distribusi timpang, jika ini dibiarkan, maka krisis pangan bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Di sinilah saya menangkap inti pidato Ketua DPW. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok dan distribusi, tetapi soal keberpihakan politik kepada petani agar mau dan mampu bertahan, kepada keluarga agar tidak rapuh oleh harga, dan kepada ibu-ibu yang setiap hari menjaga dapur di tengah keterbatasan.

Saya tersenyum pelan. Apa yang dulu dipelajari sebagai teori, hari ini disampaikan sebagai arah perjuangan.

Materi yang dulu terasa jauh dan besar, hari ini saya memahaminya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ketahanan pangan hadir di rumah sendiri: di piring kecil anak, di pilihan makanan yang sederhana tapi cukup, dan di doa agar keluarga tidak kekurangan. Dan untuk itulah negara harus hadir melalui kebutuhan paling dasar rakyatnya, yaitu makanan.


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita



Liburan : Saat kita saling menjadi rumah