Karena hadrah ini, saya jadi semakin memahami sebuah kalimat, "Sesuatu yang memang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalannya menghampirimu."
Semuanya berawal dari sebuah pertunjukan hadrah di acara pernikahan sekitar empat tahun lalu. Saat itu, Jadid kecil begitu terpesona melihat orang-orang memainkan tipa. Sejak hari itu, ia jatuh cinta pada alat tersebut.
Sebagai orang tua, kami hanya menganggapnya sebagai bagian dari permainan dan latihan motorik kasar.
Siapa sangka, ketertarikan sederhana itu ternyata sedang Allah siapkan menjadi sebuah jalan.
Meski kami tinggal di Wagom, Jadid mendapat kesempatan bergabung bersama grup hadrah Remaja Masjid Al-Kautsar Seberang berkat bimbingan Tata, neneknya. Awalnya semua terasa biasa saja. Ada lomba Islami untuk anak-anak, dan Tata menjadi pembina peserta dari kompleks.
Waktu itu saya hanya iseng berkata, "Abang Jadid ikut saja, kan Abang suka hadrah."
Ternyata Tata mengiyakan. Beliau langsung meminta biodata Jadid, dan dari situlah perjalanan menuju pentas pertama dimulai.
Selama hampir tiga pekan, Jadid menjalaninya dengan penuh semangat. Pagi ia sekolah, siang mengikuti les, sore ke Sebrang untuk latihan hadrah, lalu malam kembali pulang ke Wagom. Perjalanan pulang-pergi sekitar tiga puluh menit tidak pernah menjadi alasan baginya untuk mengeluh. Melihat semangatnya, saya justru belajar bahwa anak-anak sering kali lebih kuat mengejar hal yang mereka cintai daripada yang kita bayangkan.
Hari yang ditunggu pun tiba. Jadid akhirnya tampil di panggung untuk pertama kalinya.
Namun, kebahagiaan itu belum sepenuhnya lengkap.
Setelah selesai tampil dan di tanya perasaannya, Jadid berkata pelan, "Cukup... karena Baba tidak hadir."
Saat itu Baba sedang berada di Manokwari. Meski tidak bisa menyaksikan langsung, Baba memastikan semua kebutuhan Jadid terpenuhi agar ia bisa mengikuti lomba dengan tenang.
Sesaat setelah acara selesai, Baba menelepon Jadid. Suaranya bergetar, lalu ia menangis.
Di momen itu saya kembali diingatkan bahwa bagi seorang anak, kehadiran orang tua sering kali lebih berharga daripada apa pun. Dukungan dalam bentuk usaha dan pengorbanan sangat berarti, tetapi pelukan, tatapan, dan kehadiran di momen-momen penting akan selalu memiliki tempat yang istimewa di hati mereka.
Semoga suatu hari nanti, ketika Jadid membaca tulisan ini, ia tahu bahwa pentas pertamanya bukan hanya tentang hadrah. Ini adalah kisah tentang cinta, ikhtiar, takdir.
Semoga suatu saat Baba bisa menyaksikan langsung penampilan Jadid berikutnya. Saya yakin, bagi Jadid, itu akan menjadi kebahagiaan yang lebih utuh.



















































