Kemarin di Musda PKS, saya mendengarkan pidato Ketua DPW Bapak Imam Muslih. Tiba-tiba ingatan terasa dejavu.
Beliau berbicara dengan tenang, tetapi isinya berat. Tentang masa depan pangan dalam hal ini beras dan tentang petani yang kian berkurang.
Beliau mengatakan bahwa ketahanan pangan di masa depan menuntut keberanian untuk berpikir ulang tentang diversifikasi, tentang menghidupkan kembali pangan lokal sebagai makanan pengganti yang layak, sehat, dan bermartabat.
Saya langsung teringat materi lama di bangku HI: krisis pangan global. Bagaimana pangan bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen kekuasaan. Ketika produksi terganggu dan distribusi timpang, jika ini dibiarkan, maka krisis pangan bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan.
Di sinilah saya menangkap inti pidato Ketua DPW. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok dan distribusi, tetapi soal keberpihakan politik kepada petani agar mau dan mampu bertahan, kepada keluarga agar tidak rapuh oleh harga, dan kepada ibu-ibu yang setiap hari menjaga dapur di tengah keterbatasan.
Saya tersenyum pelan. Apa yang dulu dipelajari sebagai teori, hari ini disampaikan sebagai arah perjuangan.
Materi yang dulu terasa jauh dan besar, hari ini saya memahaminya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ketahanan pangan hadir di rumah sendiri: di piring kecil anak, di pilihan makanan yang sederhana tapi cukup, dan di doa agar keluarga tidak kekurangan. Dan untuk itulah negara harus hadir melalui kebutuhan paling dasar rakyatnya, yaitu makanan.
✍️ Rima Rumata
#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita








