Jumat, 30 Oktober 2026

Amah Dewi, Mbak Dewi..

Awalnya, aku bahkan tidak tahu harus menggambarkan perjalanan persaudaraanku dengan Mba Dewi seperti apa.

Beliau bukan sekadar teman seperjuangan. Kami pernah berjalan bersama di Salimah, Soleram, dan Yayasan As Salaam. Ada begitu banyak cerita, pertemuan, perjuangan, dan kenangan yang terangkai di antara kami.

Mba Dewi adalah teman yang selalu memanggilku dengan sebutan "Cinta". Sosok perempuan hebat dengan kemampuan public speaking yang luar biasa. MC yang keren, yang selalu punya cara untuk menghidupkan suasana.

Selasa malam, 27 Oktober, aku dan suami mengantar beliau ke pelabuhan. Mba Dewi akan pulang ke Jayapura, kota asalnya.

Saat itu aku tidak menangis. Aku pikir semuanya baik-baik saja. Kami berpisah seperti biasa, dengan perasaan yang mungkin belum sempat kupahami.

Namun, ternyata ada sesuatu yang tertinggal di hatiku.

Perasaanku tak karuan. Butuh waktu tiga hari sampai akhirnya aku bisa mengurai apa yang sebenarnya kurasakan.

Dan hari ini, aku menangis sejadi-jadinya.

Rasanya seperti seseorang yang sedang patah hati karena ditinggalkan kekasihnya. Aku merindukan Mba Dewi. Ada bagian dari hatiku yang tiba-tiba terasa kosong. Sesuatu yang selama ini mungkin hadir begitu saja dalam keseharianku, kini mendadak tidak ada.

Aku sedih sekali.

Barangkali, selama ini aku tidak benar-benar menyadari betapa berharganya kehadiran seseorang sampai tiba waktunya kami harus berjalan di tempat yang berbeda.

Akhirnya, aku hanya bisa mengirim pesan singkat melalui WhatsApp:

"Rindu Mba Dewi..."

Sesederhana itu kalimatnya. Tapi ternyata, sepanjang itu rasa yang ingin kusampaikan.

Kadang, kita baru menyadari sedalam apa seseorang tinggal di hati kita, setelah jarak membuat kehadirannya tak lagi bisa dijumpai setiap hari.








Mba Dewi, terima kasih sudah memberikan energi yang luar biasa selama di Fakfak. ❤️

Menurutku, Mba Dewi dan Ustaz Ono itu seperti pelangi yang hadir di langit Fakfak. Di tengah perjalanan dakwah  fakfak yang terasa monoton ini. Mba Dewi dan Ust Ono hadir membawa warna cerah, kehangatan, dan semangat baru.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan dakwah di Fakfak. Ada energi, cerita, dan kenangan yang sederhana, tetapi punya tempat tersendiri di hati ku.

Mba Dewi, aku juga ingin minta maaf karena selama ini belum bisa menjadi saudara yang baik. Ada sikap, perkataan dan kesempatan yang terlewat ketika seharusnya bisa lebih hadir, lebih peduli, dan lebih menguatkan.

Kuakui masih belajar menjadi saudara seperjuangan yang baik. Maaf selama kebersamaan kita, belum bisa memberikan kebaikan sebanyak yang Mba Dewi berikan.

Semoga Allah membalas setiap kebaikan Mba Dewi dan Ustaz Ono, menerima setiap lelah sebagai amal saleh, dan menjadikan pertemuan kita di Fakfak sebagai bagian indah dari perjalanan dakwah yang penuh syukur.

Maaf saudariku sayang..

Uhhibukifiillah...💚💚💚💚



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amah Dewi, Mbak Dewi..

Awalnya, aku bahkan tidak tahu harus menggambarkan perjalanan persaudaraanku dengan Mba Dewi seperti apa. Beliau bukan sekadar teman seperj...