Selasa, 21 Juli 2026
Jadid dan Hari Minggu
Mekah is Turning One
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menghadirkan begitu banyak kebahagiaan dalam hidupku, melimpahkan cinta, kesehatan, dan menghangatkan keluarga kecil kami. Alhamdulillah
14 Juli, bayi kecil kami, Mekah, genap berusia 1 tahun. Rasanya baru kemarin Nina melahirkanmu sayang.. Nina Masih ingat bagaimana Baba dan Abang Jadid dengan telaten merawat Nina, ada Tata tete yang selalu setia menemani di rumah sakit, orang rumah om-om dan mama tengah, bapa tengah, Bibi Ria, Amah Dian, Baba Uku, Ade Salwa, dan semua keluarga, teman-teman Nina. ya Allah begitu banyak cinta yang hadir. Alhamdulillah.
Hari ini 14 Juli, Mekah Ulangtahun. Alhamdulillah Mekah tumbuh sehat, cantik, lincah, ceria, dan penuh rasa ingin tahu. Mekah sudah bisa memanggil "Baba", "Cinta", Abang dan "Nina". Setiap kali mendengar suara kecil Mekah memanggil kami, hati ini selalu dipenuhi rasa syukur. Alhamdulillah.
Sebagai wujud rasa syukur kepada Allah, kami memilih merayakannya dengan makan malam bersama di luar, ada kebersamaan, tawa, doa, dan hati yang penuh syukur. Momen-momen sederhana seperti inilah yang ingin kami simpan sebagai kenangan indah keluarga.
Terima kasih ya Allah atas amanah terindah ini. Semoga Mekah selalu Engkau jaga, tumbuh sehat, menjadi anak yang sholihah, berakhlak mulia, penuh kasih sayang, serta membawa keberkahan.
Selamat ulang tahun yang pertama, sayangku Mekah. Semoga Allah selalu membersamai setiap langkah kecilmu. Kami mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya. 🤍✨
Senin, 13 Juli 2026
Idealisme Orangtua dan Harga Diri Seorang Anak
Hari pertama sekolah saya maknai sebagai idealisme orangtua dan harga diri seorang anak. Kami memutuskan untuk menjalani homeschooling bersama Abang Jadid. Namun, ternyata Abang Jadid punya pikiran sendiri. sebagai seorang anak, ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya pergi ke sekolah seperti teman-temannya yang ia lihat setiap pagi dengan seragam dan tas di punggung mereka.
Maka pagi ini menjadi hari pertama Abang Jadid pergi ke sekolah. Dengan penuh semangat, ia mengenakan seragam merah putih lengkap. Sebelum diantar ke sekolah, ia meminta izin untuk membeli jajanan di kios depan rumah. Di sana, ia bertemu dengan teman-teman kompleksnya yang juga sedang bersiap berangkat ke sekolah. Mereka saling memanggil. Wajahnya tampak begitu ceria, ada sorot mata yang sulit saya jelaskan.
Walaupun kami sudah memutuskan homeschooling karena alasan yang kami yakini untuk keluarga dan perjalanan belajarnya. Namun, ketika anak sendiri berkata bahwa ia ingin sekolah karena malu diejek teman-temannya yang menganggap ia tidak sekolah, hati kami pun ikut terusik. Homeschooling memang belum menjadi sesuatu yang familiar di lingkungan kami, karena belajar identik dengan pergi ke sekolah setiap pagi. Tapi its ok.
Mungkin inilah salah satu tugas kami sebagai orang tua: bukan hanya memilih jalan belajar yang kami yakini tetapi juga mendengarkan kerinduan kecil di hati anak. Dan saat itu, saya menyadari bahwa ini bukan sekadar tentang seragam sekolah. Ini tentang harga diri seorang anak.
Kalau besok-besok pilih homeschooling ayo Nak...
-
#Hati Akhir - akhir ini yang menjadi konsentrasi berfikir saya adalah hati. Seikhlas apa berbuat kebaikan. Sedalam lautan mampu...
-
Kalau ada sekolah dengan jurusan “Orangtua”, semua yang mau menikah harus sekolah dulu sebelum jadi orangtua. Tapi plot twist-nya: menjadi ...

















































