Selasa, 21 Juli 2026

Jadid dan Hari Minggu

Jadidku kini berusia 7 tahun. Berdasarkan STIFIn, ia bertipe Intuiting Ekstrovert. Sebagai anak ekstrovert, semangatnya tumbuh dan menguat dari lingkungan sekitarnya. Ia sangat ekspresif, ceria, dan fotogenik. Nina selalu sukq melihat senyumnya yang lepas dan ceria. 

Belakangan ini, ia sedang senang menghitung hari. Dari semua hari dalam sepekan, yang paling ia tunggu adalah hari Minggu. Baginya, hari Minggu adalah hari piknik. Seolah sudah menjadi tradisi kecil keluarga kami.
Yang lucu, bagi Abang Jadid, piknik tidak hanya soal pergi ke suatu tempat. Piknik harus ramai. Harus ada Tata, Tete, Om Ugi, atau teman-temannya. Semakin banyak yang ikut, semakin besar semangatnya.

Suatu hari, Baba dan Nina lupa mengonfirmasi apakah jadi piknik atau tidak. Saat itu Abang Jadid sedang menginap di rumah Tata. Biasanya kami berangkat pagi agar bisa pulang sebelum siang dan beristirahat.

Minggu pagi, Abang Jadid telepon dari rumah Tata. Baba yang menjawab telfon langsung terkejut.
"Hah... jadi pergi? Abang Jadid tidak bilang, sih..."
Ternyata, di benak Abang Jadid, hari Minggu berarti pasti piknik. Ketika ia merasa kami tidak menjemputnya, ia pun mulai ngambek.
Dari situ kami belajar bahwa rutinitas yang sederhana ternyata menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya.

Minggu berikutnya, Baba dan Nina sudah memastikan rencana piknik sejak awal. Abang Jadid langsung mengiyakan dengan penuh semangat. Namun, kali ini Tata, Tete, Om Ugi, dan teman-temannya tidak ada yang bisa ikut.
Seketika semangatnya menurun. wajahnya sedikit kecewa.

Akhirnya yang berangkat hanya Baba, Nina, Abang Jadid, dan ade Mekah.
Tapi justru piknik kali ini menjadi piknik yang berbeda. Lebih tenang, lebih hangat, dan lebih banyak ruang untuk bercerita. 
Kami menyadari bahwa bagi anak bertipe Intuiting Ekstrovert, kebersamaan dengan banyak orang memang mengisi energinya. 
Namun perlahan, kami juga ingin mengajarkannya bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari ramainya orang yang ikut, melainkan dari hangatnya kebersamaan dengan keluarga.

Semoga kelak, Abang Jadid tumbuh menjadi pribadi yang mampu menikmati kebersamaan dalam keramaian, sekaligus menemukan ketenangan dalam lingkaran kecil keluarganya.

Ya Allah, bimbinglah kami agar mampu memahami bahasa cinta setiap anak yang Engkau titipkan. Aamiin.























Mekah is Turning One

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menghadirkan begitu banyak kebahagiaan dalam hidupku, melimpahkan cinta, kesehatan, dan menghangatkan keluarga kecil kami. Alhamdulillah

14 Juli, bayi kecil kami, Mekah, genap berusia 1 tahun. Rasanya baru kemarin Nina melahirkanmu sayang.. Nina Masih ingat bagaimana Baba dan Abang Jadid dengan telaten merawat Nina, ada Tata tete yang selalu setia menemani di rumah sakit, orang rumah om-om dan mama tengah, bapa tengah, Bibi Ria, Amah Dian, Baba Uku, Ade Salwa, dan semua keluarga, teman-teman Nina. ya Allah begitu banyak cinta yang hadir. Alhamdulillah.

Hari ini 14 Juli, Mekah Ulangtahun. Alhamdulillah Mekah tumbuh sehat, cantik, lincah, ceria, dan penuh rasa ingin tahu. Mekah sudah bisa memanggil "Baba", "Cinta", Abang dan "Nina". Setiap kali mendengar suara kecil Mekah memanggil kami, hati ini selalu dipenuhi rasa syukur. Alhamdulillah.

Sebagai wujud rasa syukur kepada Allah, kami memilih merayakannya dengan makan malam bersama di luar, ada kebersamaan, tawa, doa, dan hati yang penuh syukur. Momen-momen sederhana seperti inilah yang ingin kami simpan sebagai kenangan indah keluarga.

Terima kasih ya Allah atas amanah terindah ini. Semoga Mekah selalu Engkau jaga, tumbuh sehat, menjadi anak yang sholihah, berakhlak mulia, penuh kasih sayang, serta membawa keberkahan. 

Selamat ulang tahun yang pertama, sayangku Mekah. Semoga Allah selalu membersamai setiap langkah kecilmu. Kami mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya. 🤍✨















Senin, 13 Juli 2026

Idealisme Orangtua dan Harga Diri Seorang Anak

Hari pertama sekolah saya maknai sebagai idealisme orangtua dan harga diri seorang anak. Kami memutuskan untuk menjalani homeschooling bersama Abang Jadid. Namun, ternyata Abang Jadid punya pikiran sendiri. sebagai seorang anak, ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya pergi ke sekolah seperti teman-temannya yang ia lihat setiap pagi dengan seragam dan tas di punggung mereka. 

Maka pagi ini menjadi hari pertama Abang Jadid pergi ke sekolah. Dengan penuh semangat, ia mengenakan seragam merah putih lengkap. Sebelum diantar ke sekolah, ia meminta izin untuk membeli jajanan di kios depan rumah. Di sana, ia bertemu dengan teman-teman kompleksnya yang juga sedang bersiap berangkat ke sekolah. Mereka saling memanggil. Wajahnya tampak begitu ceria, ada sorot mata yang sulit saya jelaskan. 

Walaupun kami sudah memutuskan homeschooling karena alasan yang kami yakini untuk keluarga dan perjalanan belajarnya. Namun, ketika anak sendiri berkata bahwa ia ingin sekolah karena malu diejek teman-temannya yang menganggap ia tidak sekolah, hati kami pun ikut terusik. Homeschooling memang belum menjadi sesuatu yang familiar di lingkungan kami, karena belajar identik dengan pergi ke sekolah setiap pagi. Tapi its ok.

Mungkin inilah salah satu tugas kami sebagai orang tua: bukan hanya memilih jalan belajar yang kami yakini tetapi juga mendengarkan kerinduan kecil di hati anak. Dan saat itu, saya menyadari bahwa ini bukan sekadar tentang seragam sekolah. Ini tentang harga diri seorang anak. 

Kalau besok-besok pilih homeschooling ayo Nak...























Hidup Mulia dan Mati Sahid