Hari pertama sekolah saya maknai sebagai idealisme orangtua dan harga diri seorang anak. Kami memutuskan untuk menjalani homeschooling bersama Abang Jadid. Namun, ternyata Abang Jadid punya pikiran sendiri. sebagai seorang anak, ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya pergi ke sekolah seperti teman-temannya yang ia lihat setiap pagi dengan seragam dan tas di punggung mereka.
Maka pagi ini menjadi hari pertama Abang Jadid pergi ke sekolah. Dengan penuh semangat, ia mengenakan seragam merah putih lengkap. Sebelum diantar ke sekolah, ia meminta izin untuk membeli jajanan di kios depan rumah. Di sana, ia bertemu dengan teman-teman kompleksnya yang juga sedang bersiap berangkat ke sekolah. Mereka saling memanggil. Wajahnya tampak begitu ceria, ada sorot mata yang sulit saya jelaskan.
Walaupun kami sudah memutuskan homeschooling karena alasan yang kami yakini untuk keluarga dan perjalanan belajarnya. Namun, ketika anak sendiri berkata bahwa ia ingin sekolah karena malu diejek teman-temannya yang menganggap ia tidak sekolah, hati kami pun ikut terusik. Homeschooling memang belum menjadi sesuatu yang familiar di lingkungan kami, karena belajar identik dengan pergi ke sekolah setiap pagi. Tapi its ok.
Mungkin inilah salah satu tugas kami sebagai orang tua: bukan hanya memilih jalan belajar yang kami yakini tetapi juga mendengarkan kerinduan kecil di hati anak. Dan saat itu, saya menyadari bahwa ini bukan sekadar tentang seragam sekolah. Ini tentang harga diri seorang anak.
Kalau besok-besok pilih homeschooling ayo Nak...









Tidak ada komentar:
Posting Komentar