Kamis, 27 Agustus 2026

Abang Jadid dan Lomba 17-an

17-an identik dengan lomba. Ada makan kerupuk, memasukkan kelereng ke dalam sendok, tarik tambang, balap karung, dan berbagai lomba khas kemerdekaan lainnya.

Terus terang, Nina tidak terlalu antusias mengikutsertakan anak dalam lomba-lomba seperti itu.

Tapi Abang Jadid punya pikirannya sendiri.

Beberapa waktu lalu, ia dengan penuh inisiatif mendaftarkan dirinya sendiri untuk ikut lomba 17-an di kampung.

Dan dari sekian banyak lomba yang tersedia, Abang memilih...

Lomba makan kerupuk. 😂

Nina sempat bertanya,

“Kenapa Abang pilih lomba makan kerupuk?”

Jawabannya sederhana.

“Karena kemarin Abang ikut lomba makan kerupuk di sekolah, tapi kalah. Jadi Abang mau coba lagi. Siapa tahu sekarang beruntung.”

Nina tersenyum.

Ternyata bagi Abang, kalah bukan berarti selesai.

Masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.

Sejak beberapa hari sebelum perlombaan, Abang dan teman-temannya sudah sibuk menunggu hari H.

Sayangnya, lomba itu beberapa kali ditunda karena bertepatan dengan acara karnaval.

Dan ternyata penundaan itu membuat Abang cukup gelisah.

Dia takut pergi les.

Takut diajak jalan-jalan.

Takut nanti justru lombanya dimulai ketika dia sedang tidak ada.

Pernah suatu hari Baba mengajaknya jalan-jalan.

“Abang ikut Baba, yuk.”

Abang menjawab serius,

“Abang ada agenda, Baba. Jadi Abang tidak bisa.”

😂

Agenda seorang anak tujuh tahun.

Lomba makan kerupuk.

Sampailah hari yang ditunggu-tunggu.

Sore itu, lomba akhirnya dimulai.

Abang berdiri di antara anak-anak lain. Kerupuk tergantung di depan mereka. Semua bersiap.

Dan...

Abang kalah.

Tidak ada hadiah.

Tidak ada piala.

Tidak ada medali.

Yang ada justru sedikit omelan karena uang pendaftaran yang sudah dibayar terasa seperti “hilang”. 😂

Nina kira ceritanya selesai sampai di situ.

Ternyata belum.

Beberapa hari kemudian, tempat les baca tulis Abang ternyata mengadakan lomba 17-an juga.

Dan kali ini...

Abang Jadid berhasil mendapatkan juara 2!

Ia pulang membawa sebuah medali kalung dari karton.

Wajahnya berbinar.

Medali itu langsung dikalungkan di lehernya.

Dan sejak hari itu, medali tersebut dibawa ke mana-mana.

Ke luar rumah.

Ikut jalan.

Ikut silaturahmi.

Sepertinya Abang memang ingin semua orang tahu satu hal:

“Abang berhasil.”

Hari itu Nina dan Baba punya agenda silaturahmi ke rumah Ustad Agus, Ustad Ono, dan Baba Uku.

Dan tentu saja...

medali itu masih bertengger manis di leher Abang.

Sesampainya di rumah Baba Uku, Baba sepertinya tahu persis apa yang sedang diinginkan Abang.

Baba melihat medali itu, lalu dengan suara bangga berkata,

“Baba Uku, lihat ee... Abang Jadid dapat juara dua lomba 17-an di tempat les!”

Baba Uku langsung memberi selamat.

“Wah, selamat Abang!”

Dan Abang...

sumringah.

Matanya berbinar.

Dadanya sedikit membusung.

Medali di lehernya terasa semakin berharga.

Mungkin bagi orang dewasa, itu hanya sebuah medali sederhana dari lomba 17-an.

Tapi bagi seorang anak yang sebelumnya pernah kalah dalam lomba yang sama...

medali itu seperti sebuah tanda kecil bahwa:

“Aku pernah gagal. Tapi aku mencoba lagi. Dan kali ini, aku berhasil.”

Dan mungkin, itu salah satu pelajaran paling indah dari lomba 17-an tahun ini.

Tentang seorang anak yang belajar bahwa kalah tidak selalu berarti berhenti.

Kadang kita hanya perlu mencoba sekali lagi.

Siapa tahu...

kali ini kita beruntung. ❤️






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Abang Jadid dan Lomba 17-an

17-an identik dengan lomba. Ada makan kerupuk, memasukkan kelereng ke dalam sendok, tarik tambang, balap karung, dan berbagai lomba khas kem...