Satu minggu Baba berada di Manokwari. Karena Abang Jadid sedang mempersiapkan lomba hadrah, selama seminggu itu, ia tinggal di rumah Tata dan Tete (nenek dan kakeknya) di sebrang.
Setiap pagi, saat jam sekolah, Om Bara, adik laki-lakiku, yang mengantar Jadid ke sekolah.
Biasanya, setelah dijemput dari sekolah, Jadid langsung menuju rumah Tata dan Tete. Tetapi hari itu, ia singgah sebentar di rumah.
Dari dalam rumah, saya mendengar suaranya.
“Nina... Nina...”
“Iya, Nak...” sahutku.
Begitu melihatku, Abang Jadid langsung memelukku. Lama sekali.
“Rindu Nina,” katanya.
Aku pun menyambut pelukan itu. Kami berdua berpelukan begitu lama, seolah sedang menebus rindu yang terkumpul beberapa hari.
Ya Allah...
Indah sekali rasanya menjadi seseorang yang dirindukan oleh anak sendiri.
Di dalam pelukan itu, saya hanya bisa berdoa:
“Ya Allah, bantu Nina menjadi ibu yang dirindukan anak-anaknya. Bukan hanya ibu yang selalu ada, tetapi ibu yang membuat mereka merasa aman untuk pulang.
Bantu Nina menjadi Mama as a Coach bagi anak laki-lakiku tercinta ini. Yang tidak hanya mendampingi langkahnya, tetapi juga membersamai ia menemukan dirinya, mengenal potensinya dan tumbuh menjadi laki-laki yang Engkau cintai.
Jadikan rumah ini tempat ia selalu ingin pulang.
Dan jadikan pelukan Mama sebagai salah satu tempat paling nyaman yang ia kenal dalam hidupnya.”
Pelukan itu sederhana.
Tapi hari itu, saya belajar lagi cinta memang banyak bentuknya. Seperti pelukan yang lama dari anak sendiri. Indah sekali ya Allah.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar