Kamis, 23 Juli 2026

Abang Jadid dan Hadrah

Seingatku, semuanya bermula di sebuah acara pernikahan di jalan cengkeh tiga.

Di depan rumah mempelai pria, sekelompok bapak-bapak duduk melingkar memainkan hadrah. Tabuhan rebana berpadu dengan suara shalawat, mengalun begitu kompak. 

Hari itu bukan hanya saya yang terpikat dengan irama hadrah. Abang Jadid juga, ia terpesona. Hampir tak berkedip, tatapannya begitu lekat pada setiap tangan yang menabuh rebana, seolah sedang menyimpan semua gerakan itu di dalam ingatannya.Takjub. 

Saat itu usianya tiga tahun. Dan sejak hari itu, rebana menjadi teman bermainnya. ia suka menabuh rebana dengan gembira bahkan seperti merusak alat. Sebagai orang tua, otakku sempat terlintas, " ish, bikin rusak barang saja"hiihh

Alat yang dulu menjadi teman bermain berubah jadi jalan bagi Abang Jadid, ikut memeriahkan syiar Islam di Fakfak. 

Tadi malam saat pentas, yang kulihat bukan sekadar seorang anak yang sedang memainkan hadrah. Yang kulihat adalah sebuah perjalanan.

Perjalanan seorang anak kecil yang dulu berdiri terpaku, memandang penuh kekaguman pada tabuhan rebana di sebuah acara pernikahan, dengan mata berbinar. Seolah menyimpan diam-diam sebuah impian.

Tadi malam anak itu bukan lagi penonton. Ia berdiri di barisan yang dulu hanya ia kagumi, ikut menabuh rebana dengan semangat. Terharuku! 

Semoga setiap orang yang menjadi sebab hadirnya kesempatan ini selalu berada dalam keberkahan Allah. Baarakallahu fiikum. #lombaislami #memperingati 666 tahun Islam Masuk di Papua









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pentas Pertama, Bahagia yang Belum Lengkap

Karena hadrah ini, saya jadi semakin memahami sebuah kalimat, "Sesuatu yang memang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalannya menghamp...