Senin, 29 Desember 2025

Dengar Pidato Ketua DPW di Musda










Kemarin di Musda PKS, saya mendengarkan pidato Ketua DPW Bapak Imam Muslih. Tiba-tiba ingatan  terasa dejavu. 

Beliau berbicara dengan tenang, tetapi isinya berat. Tentang masa depan pangan dalam hal ini beras dan tentang petani yang kian berkurang.

Beliau mengatakan bahwa ketahanan pangan di masa depan menuntut keberanian untuk berpikir ulang tentang diversifikasi, tentang menghidupkan kembali pangan lokal sebagai makanan pengganti yang layak, sehat, dan bermartabat.

Saya langsung teringat materi lama di bangku HI: krisis pangan global. Bagaimana pangan bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen kekuasaan. Ketika produksi terganggu dan distribusi timpang, jika ini dibiarkan, maka krisis pangan bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Di sinilah saya menangkap inti pidato Ketua DPW. Ketahanan pangan bukan hanya soal stok dan distribusi, tetapi soal keberpihakan politik kepada petani agar mau dan mampu bertahan, kepada keluarga agar tidak rapuh oleh harga, dan kepada ibu-ibu yang setiap hari menjaga dapur di tengah keterbatasan.

Saya tersenyum pelan. Apa yang dulu dipelajari sebagai teori, hari ini disampaikan sebagai arah perjuangan.

Materi yang dulu terasa jauh dan besar, hari ini saya memahaminya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ketahanan pangan hadir di rumah sendiri: di piring kecil anak, di pilihan makanan yang sederhana tapi cukup, dan di doa agar keluarga tidak kekurangan. Dan untuk itulah negara harus hadir melalui kebutuhan paling dasar rakyatnya, yaitu makanan.


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita



Jumat, 14 November 2025

TABUNGAN MASA KECIL

Dulu, pengasuhan kita keras atau yang sering disebut parenting ala VOC, Kita pikir itulah cara paling efektif membuat anak patuh. Kita merasa semuanya akan baik-baik saja.Toh kita tumbuh, sekolah, bahkan mungkin sukses.

Namun ternyata, “baik-baik saja” itu tidak selalu berarti kita membawa tabungan emosi yang aman. Ada bagian dalam diri yang menyimpan takut, marah, atau rasa tidak cukup dan semuanya muncul saat kita menjadi orang tua. Tidak hanya dalam pengasuhan, tetapi juga dalam hubungan rumah tangga.

Bentuknya bisa halus seperti menurut kita anak susah diatur, bisa juga menyakitkan seperti perselingkuhan, pergaulan bebas, kontrol berlebihan, sikap dingin, kebutuhan selalu menang, KDRT, atau silent treatment.

Karena itu, meski kita sudah belajar parenting, baca buku, ikut kelas, bahkan hafal teori, saat berada di bawah tekanan atau kelelahan yang keluar tetap refleks lama: marah, membentak, menuntut anak untuk sempurna.

Bukan karena kita tidak cinta, tapi karena tabungan masa kecil kita dulu belum terisi dengan rasa aman. Memori masa kecil memutar ulang pola bertahan hidup yang dulu kita pakai dan tanpa sadar, pola itu diwariskan lagi pada anak

Maka kalau hari ini pernikahan atau mendidik anak bikin kita kepayahan. Jangan-jangan, tabungan masa kecil kitalah yang sedang meminta diperbaiki, ingin di asuh kembali.

Sebab ketika kita mengasuh diri, kita sedang menata ulang tabungan masa kecil di dalam diri kita memperbaiki bagian yang retak, mengisi ruang yang dulu kosong. Dan dari sanalah anak-anak kita mendapatkan tabungan masa kecil yang hangat, diterima, dan penuh rasa aman sehingga tidak mengulang pola yang sama, ketika mereka jadi orangtua juga.


Laa haulaa walaa quwwata illa billah.


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita




Wisuda

Baarakallahufiikum Adik Adik.. insyaAllah dapat Ilmu yang bermanfaat, rezeki yang banyak dan berkah dan amalan yang diterima.. Aamin..




Kamis, 06 November 2025

Belajar Parenting dan Ego yang Halus.

Saya teringat kelas ParenTHINK mbak Maya yang menampar lembut dengan satu pertanyaan: 

“Belajar parenting supaya apa?”

Apakah sungguh untuk memahami anak atau supaya orang lain melihat kita sebagai orangtua yang berhasil? 

Benar bahwa, orangtua tua mana yang ingin anaknya menderita. Namun, sering tanpa sadar, niat baik itu berubah jadi kendali. Anak diarahkan ke sekolah ini, jurusan itu, pekerjaan yang “pasti”.

Yang akhirnya …Ia belajar, tapi hatinya tidak hidup. Ia bekerja, tapi hatinya tidak disana. 

Perlahan, kita mulai melihat tanda-tanda kelelahan jiwa di sekitar kita. Anak-anak yang sekolah tinggi tapi hatinya kosong. Anak-anak pintar tapi kehilangan arah sehingga mudah membuli atau bekerja bukan karena panggilan hidup, melainkan demi gengsi dan pengakuan.

Orangtua begitu semangat mendorong anak untuk berhasil versi dunia, tapi sering lupa memberi ruang agar anak merasa dimengerti, agar ia tidak kehilangan arah jiwanya sendiri. 

Saya sedang menyadarkan diri sendiri bahwa sesungguhnya belajar parenting bukan untuk mengontrol anak, tapi untuk menjinakkan ego sendiri. Mendampingi anak tumbuh sesuai fitrahnya karena setiap jiwa punya alasan mengapa ia diciptakan Allah. Tidak ada yang kebetulan.


Laa Haula Wallaquwwata Illah Billah...


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita








Hari Ahad: Hari Istirahat atau Hari Paling Sibuk?

Lucu ya…

Hari yang katanya untuk istirahat, justru sering jadi hari paling sibuk di rumah. Bagi ayah setelah enam hari penuh kerja. Ahad adalah waktu untuk diam menenangkan kepala yang penat. Bagi Ibu, setelah enam hari mengurus aktifitas, ahad justru jadi waktu untuk mengisi diri. Ikut kajian, belajar, menata hati, me timelah begitu... Hihi. 

Dan bagi anak-anak, ahad adalah satu-satunya hari

dimana mereka bisa merasa: “Ayah-Ibu milikku seutuhnya". Main bersama, jalan-jalan bersama tanpa buru-buru. 

Tapi begitulah hidup keluarga, bukan soal siapa yang paling lelah, melainkan bagaimana hati-hati ini saling memahami. Mungkin bukan jadwal yang perlu diatur, melainkan ritme cinta yang perlu disepakati. Dan bagiku, memang benar tidak ada hari istirahat di dunia ini, karena istirahat sejati hanya di surga, bersama keluarga. 🤍

“Wahai manusia, sungguh engkau telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.” (Al-Inshiqaq: 6)


Laa Haula Wallaquwwata Illah Billah...


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita






Allah yang Mendidik.

 Allah yang Mendidik.

Memang, guru itu seperti orangtua kedua sosok yang ucapannya bisa jadi doa, nasihatnya bisa menuntun hidup, tapi juga kata-katanya bisa meninggalkan luka batin yang sulit sembuh.

Banyak anak yang tumbuh besar dengan dua warisan dari gurunya: doa dan luka.

Doa dari guru yang tulus, bisa membuka jalan hidup seseorang.Tapi luka dari guru yang tak sadar, bisa membuat anak kehilangan kepercayaan diri bertahun-tahun.

Mungkin karena itu, guru disebut “keramat.”Keramat bukan karena harus ditakuti, tapi karena kata-katanya berdaya. Dan daya itu bisa menyembuhkan atau menyakiti.


Kata ustadz "

“Tidak ada yang benar-benar bisa mendidik anak-anak kita kecuali Allah.”

La haula wala quwwata illa billah — tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya.


Hanya Allah yang Mendidik.


POV Helikopter (Pandangan dari atas)

Tidak ada yang benar-benar bisa mendidik anak, kecuali Allah. Semua sakit, senang, kecewa, atau bahagia adalah bagian dari kurikulum Ilahi yang dirancang agar anak belajar langsung dari kehidupan.Guru, orangtua, bahkan lingkungan  hanyalah perantara dari kasih-Nya.

POV Anak:

Kami butuh di terima dulu seapa-adanya bukan dibandingkan-bandingkan.

POV Guru:

Kami belajar bahwa kata-kata kami bisa jadi doa, tapi juga bisa jadi luka. Maka kami pun sedang belajar, sama seperti murid kami. Belajar menjadi bijak, pelan-pelan, bersama waktu.

POV Orangtua:

Kami ingin anak kami tumbuh sempurna, tapi sering lupa bahwa yang menciptakan kesempurnaan hanyalah Allah. Kami bukan pemahat takdir, hanya penjaga amanah.


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita




Jadi "Ekor Suami"

 (Serial konsep STIFIn dalam keluarga) 

Di Milad Tukang Bangunan yang ke-11 ini… Alhamdulillah, saya memaknai satu hal besar sebagai seorang istri Feeling yang menemani suami Intuiting.

Dulu saya kira, jadi "ekor suami" berarti hanya mengikuti, tanpa arah, tanpa peran.

Ternyata Allah sedang mengajarkan sesuatu yang lebih dalam. 

Pelajaran paling melegakan adalah ketika hati belajar menundukkan ego. Karena akhirnya paham, maksud Allah menjadikan saya “ekor suami.” 

Suami Intuiting dalam dirinya, semangat tinggi untuk terus bergerak mencipta, membangun, dan mewujudkan sesuatu. Namun di balik semua itu, tersimpan ujian halus: bagaimana agar visi besar itu tidak berubah menjadi ambisi yang kering dari rasa. Sebab jika terlalu fokus pada pencapaian, langkah bisa kehilangan kehangatan dan makna.

Maka Allah hadirkan pasangan seorang istri Feeling yang jadi ekor suami, yang hidup dengan kepekaan dan rasa. Pun sebagai Istri Feeling yang terlalu dalam memaknai rasa bisa membuat langkahnya berputar di situ saja jika tanpa arah yang jelas. Maka Allah pilihkan suami Intuiting.hiihih 

Allah mempertemukan keduanya. Agar suami yang penuh visi tak kehilangan rasa dan istri yang penuh rasa tak kehilangan arah. 

Yang satu memimpin arah, yang satu menjaga makna di setiap langkahnya. Ternyata begitu cara Allah menyeimbangkan hidup agar keduanya saling menyelamatkan dari sisi terlemah dirinya..


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita




Hidup Untuk Siapa?

 Hidup Untuk Siapa? 


Refleksi 11 Tahun Perjalanan Tukang Bangunan

2025 Penuh Cinta 🤍 


Saya teringat kata-kata Mbak Maya: “Andai kita hidup untuk pasangan, anak, atau orang tua. Maka ketika mereka tak sesuai harapan, diri kita mudah goyah, roboh, bahkan hancur.” 

Kalimat itu menggetarkan hati. Karena memang, ketika hidup kita ditujukan untuk manusia, maka sandarannya rapuh. Lalu Allah mengajarkan doa cinta dalam setiap shalat: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” 

Bukan untuk anak.

Bukan untuk pasangan.

Bukan untuk orang tua.

Bukan untuk tempat kerja.

Bahkan bukan untuk diri sendiri. 

Karena semua yang hadir dalam hidup kita hanyalah pesan dari Allah. Pesan tentang apa yang perlu kita perbaiki dari dalam diri. Semua yang datang adalah kesenangan sekaligus ujian yang tujuannya mengasah jiwa agar menjadi tenang. 

11 tahun bukan sekadar usia.

Dulu kami pikir sedang membangun pekerjaan. Ternyata, Allah sedang mengajarkan kami membangun jiwa. Kami belajar bahwa ego dan iman sama-sama perlu diberi makan. Ego perlu diakui — karena manusia butuh dihargai, didengar, dan dicintai. Sedangkan iman perlu dirawat — dengan dzikir, ilmu, sabar, syukur, dan keikhlasan. 

Tanpa iman, manusia diperbudak ego.Tanpa ego, manusia tak belajar mengenal dirinya. Maka keduanya tidak perlu dibenturkan, tetapi dilebur dengan cinta. 

Ego bukan musuh, ia hanya ingin dipeluk.Ia ingin diakui bahwa ada rasa lelah, kecewa, dan ambisi itu nyata. Ego butuh air penerimaan agar bisa menenangkan seluruh diri.

Dan mungkin di situlah makna perjalanan panjang ini. Perjalanan membangun pekerjaan sambil membangun jiwa. Tahun ini, Baba Syam menyebutnya dengan lembut: "2025 Penuh Cinta.” 

Ia adalah perjalanan menuju makna.

Dari bekerja dengan tangan menuju bekerja dengan hati. Dari sekadar mencari nafkah menuju menemukan cinta. Cinta yang menuntun ego agar tunduk pada iman. Cinta yang mengubah pekerjaan menjadi ibadah.

Cinta yang melahirkan jiwa-jiwa yang tenang, ridho, dan diridhai Allah. (QS. Al-Fajr: 27–28). 

Baarakallahufiik Tukang bangunan yang ke 11 Dasyat luar biasa penuh cinta.




p


m








Self Care Lewat Relasi Sosial: Terhubung Tanpa Kehilangan Diri.

Kadang kita kira self care berarti menjauh dari orang lain, menyendiri lalu tenang. Ternyata bagian dari merawat diri justru ada di cara kita terhubung secara sosial dengan orang lain. Bukan sekadar ramai, tapi hadir dengan sadar. 

Kalau kita belum kenal diri sendiri, relasi sosial bisa jadi sumber lelah dan penyakit. Tapi kalau kita tahu cara kerja jiwa kita, terhubung justru menjadi sumber energi dan ketenangan. 

Penelitian menunjukkan, relasi sosial yang sehat membuat kita lebih bahagia dan panjang umur. Sebaliknya, kesepian bisa diam-diam melemahkan tubuh dan memperburuk kesehatan. 

Maka, merawat diri bukan hanya tentang waktu untuk diri sendiri, tapi juga tentang bagaimana kita membangun relasi yang menumbuhkan. Dan setiap orang memiliki cara terhubung yang berbeda sesuai mesin kecerdasan STIFInnya. 

🌿 Sensing – terhubung lewat kebersamaan yang nyata.

💡 Thinking – terhubung  lewat percakapan dan ide yang terbuka.

🎯  Intuiting – terhubung saat bisa berbagi makna dan arah.

💞 Feeling – terhubung saat bisa saling mendengar, memahami dan berbagi cerita.

🌀 Insting – terhubung lewat kehadiran yang damai, tanpa banyak kata. 

Kenal diri sendiri membuat kita tahu bagaimana terhubung dengan orang lain tanpa kehilangan diri.

Karena sejatinya, self care bukan hanya tentang menjauh untuk pulih, tapi juga tentang belajar hadir, sadar dan apa adanya. 

Saya seorang Feeling yang relasi sosialnya belum tumbuh, masih kaku, kikuk kalau ketemu orang. Tapi Sedang belajar merawat diri dengan mendengar, memahami, dan berbagi cerita. 🌷


✍️ Rima Rumata

#familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri #bagicerita











Rabu, 29 Oktober 2025

Dan Negara yang baik dimulai dari manusia unggul berkualitas.

Dan Negara yang baik dimulai dari manusia unggul berkualitas.

Kualitas manusia dimulai dari keluarga yang sehat mental.

Keluarga yang sehat mental dimulai dari individu yang sudah selesai dengan dirinya. 

Individu yang sudah selesai dengan dirinya dimulai dari 7 tahun pertamanya.. 

Dilahirkan penuh harap, dirawat penuh cinta, dan dibimbing dengan penuh perhatian.

itulah dasar dari individu yang kokoh. Di tujuh tahun pertama, anak-anak belajar tentang rasa aman, kasih sayang, dan kepercayaan. Pengalaman-pengalaman ini membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan dunia.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh cinta dan penerimaan akan lebih mudah menyelesaikan pergolakan batin di dalam dirinya, karena mereka sudah terbiasa merasa dihargai dan didengar.

Individu yang sehat secara mental sejak awal kehidupan akan memiliki kekuatan untuk berkontribusi pada keluarga yang harmonis. Keluarga yang sehat mental akan melahirkan generasi yang siap membangun bangsa yang lebih baik. Dengan kata lain, bangsa yang kuat dan berdaya saing dimulai dari individu yang terbangun sejak kecil dengan kasih sayang, perhatian, dan fondasi yang sehat.

Kalau sekarang negara belum seperti itu... mari kita berjuang bersama mengisi tengki cinta anak-anak kita. 


 ----Rima Rumata---












Dengar Pidato Ketua DPW di Musda

Kemarin di Musda PKS, saya mendengarkan pidato Ketua DPW Bapak Imam Muslih. Tiba-tiba ingatan  terasa dejavu.  Beliau berbicara dengan tenan...