Sabtu, 20 September 2025

Rindu Lewat Cerita

 Rindu Lewat Cerita 

Saya tak menyangka cerita mimpiku tentang Tata Umi (orangtua Baba) membuat Abang Jadid tersedu-sedu. Hujan malam jatuh perlahan, seakan ikut menemani percakapan kami. 

“Waktu Tata Umi sakit, hanya bisa berbaring di tempat tidur,” kataku pelan sebelum melanjutkan cerita.

“Tapi di mimpi Nina, Tata Umi bisa berlari, main kejar-kejaran di dalam rumah dengan anak laki-laki berpeci. Tata Umi dan anak itu sama-sama pakai baju putih.”

Mimik wajah Abang Jadid tampak antusias mendengarkan lanjutannya. Ternyata mimpi itu membawa pesan: Tata Umi dipanggil Allah. Dan setelah itu ternyata Nina mengandung Abang Jadid.

Anakku terdiam, menunduk. Lalu ia bertanya dengan suara lirih,

“Nina… waktu Abang Jadid lahir, Tata Sebrang dan Tete Sebrang (orangtuaku) lihat Abang Jadid, kah?”

“Iya, Tata dan Tete senang sekali. Cucu pertama lahir.”

Abang Jadid menarik napas panjang, lalu suaranya bergetar sambil berkata,

“Tapi… Tata Umi tidak lihat cucu pertama dan kedua…”

Dan seketika tangisnya pecah.

Saya kaget melihat anakku menangis. Baba yang semula sibuk dengan Ade Mekah akhirnya datang mendekat, lalu menggendong Abang Jadid. Tangis  Abang Jadid semakin dalam, seolah menemukan ruang aman untuk menangis.

Malam itu saya belajar satu hal. Rindu ternyata bisa tumbuh bahkan dalam hati seorang anak kecil pada sosok yang ia sendiri belum pernah melihat langsung.

Lalu tersadar, Tata Umi sudah rindu Abang Jadid bahkan sebelum Abang Jadid hadir ke dunia. Tiga tahun menanti, dan dalam penantian itu, Tata Umi adalah orang yang paling bersemangat setiap kali waktu periksa Nina tiba. Beliau menyiapkan obat ini itu, memasakkan makanan ini itu, melakukan apa saja supaya nina senang—supaya bayi cepat hadir.

Oh, ternyata rindu itu bukan hanya milik cucu kepada neneknya, tetapi juga milik nenek kepada cucunya. Dan mungkin inilah cara Allah mempertemukan rindu itu lewat cerita, saling bersahut dari dunia yang berbeda.

----Dan di sanalah cinta orang yang telah pergi menemukan jalannya, menyusup diam-diam lewat cerita, hingga sampai ke hati generasi berikutnya. 

✍️ Rima Rumata

 #akademitrainerofficial #GerakanKontenBaik #akademitrainer #SpeakToChange #GrowAndContribute #familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri





Fitrah Rumah Tangga

Fitrah Rumah Tangga : Rantai Ketergantungan yang Membahagiakan

Di STIFIn, Fitrah Rumah Tangga adalah rantai ketergantungan yang membahagiakan. Ketergantungan ini alami: bayi bergantung pada ibu, ibu bergantung pada suami, dan suami bergantung pada Allah. Tanpa ketergantungan yang benar, fondasi bisa goyah. 

Ada tiga pilar yang menjadi nadi kehidupan pernikahan yaitu: Komunikasi, ranjang, dan nafkah. Ketiganya saling memengaruhi. Ranjang yang dingin bisa membuat kata-kata tersendat dan nafkah terasa berat. Nafkah yang tak seimbang menimbulkan ketegangan, dan komunikasi yang buruk membuat semua terasa hampa.

Saat ketiga pilar ini seimbang, tubuh dan hati kita melepaskan empat hormon kebahagiaan 

• Oksitosin: rasa aman dan kasih yang menenangkan jiwa.

• Dopamin: energi positif, semangat yang menyala.

• Serotonin: ketenangan, kepuasan yang hakiki.

• Endorfin: pelipur lara, senyum muncul tanpa sebab.

Maka, rantai ketergantungan ini menguatkan, bukan memberatkan. Bayi akan tenang karena ibu hadir, ibu akan merasa aman karena suami mendukung, dan suami akan kuat ketika bergantung pada Allah. 

Semua bergerak dalam alur fitrah yang menyehatkan, bukan melemahkan.

Ini adalah rahasia pernikahan yang hidup, hangat, penuh cinta dan diberkahi. Memangnya sepenting itu ? Iya karena itulah syurga di dunia. Masa iya, Allah mensyariatkan pernikahan manusia untuk di buat menderita di dunia. 


✍️ Rima Rumata

 #akademitrainerofficial #GerakanKontenBaik #SpeakToChange #GrowAndContribute #familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri







Kamis, 18 September 2025

Ketika seorang ibu bahagia dengan perannya

Ketika seorang ibu bahagia dengan perannya, ia tidak sedang mengorbankan dirinya untuk masa depan anaknya.
ia sedang berproses untuk menumbuhkan fitrah yang selama ini tersembunyi atau sudah tumbuh tapi belum terasah
menjadi versi terbaik dari dirinya. 

Di zaman sekarang, ibu di rumah  semestinya bisa terus belajar, menumbuhkan diri, dan mengasah potensinya, sehingga menjadi pribadi yang utuh dan kuat. Karena manusia sebagaimana Allah ciptakan seharusnya bisa berkembang, berproses, dan mengekspresikan potensi terbaiknya, bukan sekadar hidup atau bertahan, tapi menjadi pribadi yang berkembang penuh, menemukan kekuatan, kelebihan, dan karakter uniknya. 

Dalam konteks ibu berarti, saat ia bahagia dan mengenal diri, ia mampu memberikan kasih sayang yang berkualitas, sehingga anak tumbuh optimal—bukan karena pengorbanan, tapi karena energi dan potensi ibunya penuh dan terasah.


Ibu Feeling (F) → mengasah empati, belajar memahami dan merespons perasaan anak dengan tulus.

Ibu Thinking (T) → mengasah kepakaran, mampu merencanakan dan mengambil keputusan tepat dalam pengasuhan.

Ibu Insting (I) → mengasah jiwa sosial, menumbuhkan keterhubungan dan rasa peduli anak terhadap lingkungan sosial.

Ibu Intuiting (N) → mengasah ketajaman pikiran dan emosi, mampu membaca situasi dan kebutuhan anak dengan presisi.


Ibu Sensing (S) → mengasah ketelitian, memperhatikan detail dan konsistensi dalam pengasuhan sehari-hari.

Bayangkan jika seorang ibu merasa berkorban dengan perannya, ia tidak hanya mengerdilkan dirinya sendiri (padahal Allah memuliakanya), tetapi juga anaknya.








-----Rima Rumata-----

#akademitrainerofficial #Insightinspirasiperempuan #GerakanKontenBaik #akademitrainer #SpeakToChange #GrowAndContribute #familyjourney #family #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #pengingatdiri

Rabu, 27 Agustus 2025

Sampah Emosi Ibu

Memang benar, punya suami yang mendukung membuat seorang istri lebih mudah mengasuh anak dengan ramah. Memang benar, ada yang membantu mengurus rumah membuat seorang ibu bisa lebih tenang membersamai anak. 

Namun, bagaimana jika semua kemudahan itu tidak kita miliki? Maka, kita harus bekerja dua kali lebih keras dalam mengasuh anak.

Kenyataan yang lain, ada juga ibu-ibu yang meskipun sudah punya semua dukungan itu, tetap merasa stres dan kewalahan. 

Pointnya: Seperti rumah yang harus sering dibersihkan, hati ibu pun perlu dibersihkan dari sampah emosi. Ibu yang tidak membersihkan sampah emosinya bisa tanpa sadar melukai anaknya sendiri. Bukan karena tidak sayang, tapi karena hati yang penuh luka tak punya ruang untuk sabar dan cinta.

Psikoanalis dunia, Alice Miller, menegaskan: ibu harus bahagia dulu agar anak pun bisa tumbuh bahagia. Anak-anak belajar bukan dari kata-kata, tapi dari getaran emosi ibunya.

Jika ibu menahan penderitaan lalu berpura-pura baik demi anak, sebenarnya itu seperti mewariskan luka tak terlihat. Anak mungkin tumbuh dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Butuh pelukan tapi tak dapat, butuh diterima tapi justru dimarahi, butuh ruang mengekspresikan diri tapi dibungkam oleh emosi ibu yang lelah.

๐ŸŒช Dampaknya?

Banyak kasus bullying yang terjadi berakar dari rumah. Anak yang tumbuh bersama ibu (atau ayah) yang tidak bahagia bisa belajar:

• Menekan rasa sakitnya dengan cara menyakiti orang lain.

• Mencari kontrol lewat merendahkan teman.

• Menjadi korban pasif, karena sejak kecil terbiasa menerima perlakuan emosional yang kasar atau dingin.

Artinya, ketika ibu (dan ayah) tidak merawat kebahagiaan batin mereka, anak-anak berpotensi tumbuh dengan luka yang mencari jalan keluar. Salah satunya lewat bullying, baik sebagai pelaku maupun korban.

Maka, jangan lagi terjebak pada pola lama: “yang penting anak bahagia, meski ibunya menderita.” Karena pada akhirnya, anak hanya benar-benar bisa bahagia jika ibunya juga bahagia.


✍️ Rima Rumata

#akademitrainerofficial #GerakanKontenBaik #akademitrainer #SpeakToChange #GrowAndContribute #familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri




Minggu, 24 Agustus 2025

"Merasa Berharga"

Sore itu, dua anak muda cantik sholehah datang menjengukku yang baru saja melahirkan. Dengan senyum polos, mereka bertanya.

“Kak, kalau punya bayi tidak bisa ke mana-mana. Pasti stress, ya? Apa yang harus kami lakukan, Kalau menikah nanti?.

Saya tersenyum.

“Iya, stress itu valid. Mau keluar juga rempong. Jadi memang harus diterima. Makanya kenapa kita harus "merasa berharga".

Mereka menimpali, “Tapi Kak… yang susah itu justru "merasa berharga.”

Perlahan saya sadar, salah satu hikmah dari melahirkan, menyusui, dan mengurus anak bagi perempuan, adalah pelajaran menghargai, menghormati, mencintai dirinya terlebih dahulu, sebelum ia bisa mencintai menghargai, menghormati anaknya. 

Jadi Allah izinkan kita berada di titik lemah, terbatas, bahkan tak berdaya. Supaya kita paham, harga diri bukan ditentukan oleh status, pencapaian, atau penilaian orang lain. Nilai diri itu sudah Allah tetapkan sejak awal kita diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, dengan tujuan yang mulia.

Karena banyak perempuan setelah melahirkan merasa hidupnya berhenti karena lebih banyak di rumah, mengurus bayi, mengurus rumah tangga. Tidak seaktif ketika belum punya anak. Lalu muncul pikiran negatif: aku tidak produktif, aku tidak berguna, aku tidak berharga. Padahal, itu hanya asumsi yang melelahkan. 

Maka mengapa kita perlu merasa berharga? karena fase ini, rawan stress yang jika tidak tertangani dengan baik mengganggu kesehatan mental.

Ternyata, pelajaran menghormati dan menghargai diri sendiri justru bermula dari kerapuhan. Saat tubuh lemah dan tidak berdaya, disitulah kita diuji, masihkah kita bisa menyayangi diri kita apa adanya? Atau jangan-jangan kita hanya bisa menyayangi diri ketika punya banyak pencapaian?


✍️ Rima Rumata

#akademitrainerofficial #GerakanKontenBaik #akademitrainer #SpeakToChange #GrowAndContribute #familyjourney #storyteller #stifingenetikfakfak #stifingenetic #Pengingatdiri








Kenapa Perempuan Perlu Menghargai Dirinya

1. Keberhargaan diri seorang ibu menurun ke anaknya.

Sejak hamil, melahirkan, hingga menyusui, perasaan seorang ibu akan sangat berpengaruh pada anak. Jika seorang ibu merasa dirinya tidak berharga, emosi rendah itu besar kemungkinan akan diturunkan kepada anaknya.

2. Perempuan yang menghargai dirinya akan punya batasan yang sehat.

Ia tahu bahwa dirinya tidak boleh diperlakukan seenaknya. Karena itu, ketika menghadapi hubungan toxic atau pernikahan KDRT, ia tidak lagi berkata, “Tidak apa-apa saya disakiti, yang penting saya bertahan demi anak-anak.” Sebab ia paham, bertahan dalam kondisi itu justru akan menurunkan luka emosional pada anak. Anak belajar dari emosi ibunya. Jika ibunya pasrah dan tidak membela diri, maka ketika dibully atau diperlakukan tidak adil, anak pun tumbuh tanpa kemampuan melindungi dirinya sendiri.

3. Emosi negatif ibu bisa menurunkan luka pada anak.

Ibu yang dominan dengan emosi negatif sering kali menurunkan pola minder, tidak enakan, bahkan menjadi cikal bakal munculnya gangguan kepribadian seperti narcissistic personality disorder (NPD) pada anak.

Alice Miller, seorang psikolog, pernah menegaskan: “Jika seorang ibu menghargai dirinya dan anaknya sejak anak masih dalam kandungan, maka ia tidak perlu mengajarkan anak bagaimana ia ingin diperlakukan. Anak akan otomatis tumbuh dengan rasa hormat pada dirinya sendiri.”

Dan mustahil kita menghargai diri tanpa ilmu.  silakan belajar di kelas ini teman-teman....



Kelas Self Respect

Barokallah mba Rima ๐Ÿค— Terima kasih atas kebersamaannya selama ini. Bahagia sekali tadi mendengarkan mba presentasi. Terima kasih sudah berkenan mengerjakan tugas training sampai akhir. Setelah ini, dipersilakan untuk membawakan semua tema di kelas2 mba selanjutnya. Boleh mention/tag aku kalau buka kelas, biar bisa aku bantu infokan ke yang lain. Jazakillah khoir mba Rima ๐Ÿ™❤


Trimakasih Mba Maya Baarakallahufiik๐Ÿ™๐Ÿ’š.. sudah memberikan banyak hikmah dan menemani saya bertumbuh di kelas self respect. Karena self respect itu masalah saya sendiri..๐Ÿ™๐Ÿ’š๐Ÿฅน

Rima  Rumata: Mohon maaf lahir batin mba Maya๐Ÿ™๐Ÿ’š

Alhamdulillah.....


Bismillah. 



Fokus public speaking itu adalah:

✅ menjadi problem solver, memberi pilihan-pilihan solusi termasuk mengurai masalah.

✅ Buat Materi seperti kita ingin mendengarkan materi tsb. 

Tidak terlalu fokus ke org lain.

Seperti qoute membuat buku, "buatlah buku yang ingin kita baca dan belum ada di dunia."

Karena di era digital ini ilmu sudah aur2an.

Bagaimana kita memaparkan sesuatu yang lebih manusiawi, tidak selalu bisa di temukan atau di googling bahkan di tanya ke chat gpt.

Sampaikan hikmah apa yang berkesan bagi diri dan kehidupan kita dan ingin membaginya ke oranglain tanpa ekspektasi apapun.

Abang Jadid dan Lomba 17-an

17-an identik dengan lomba. Ada makan kerupuk, memasukkan kelereng ke dalam sendok, tarik tambang, balap karung, dan berbagai lomba khas kem...